Minggu, 04 Juli 2010

Mawaddah, Mahabbah dan Rahmah dalam Kehidupan Sepasang Insan


Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah
Perasaan cinta kepada pasangan hidup kita terkadang mengalami gejolak sebagaimana pasang surut yang dialami sebuah kehidupan rumah tangga. Tinggal bagaimana kita menjaga tumbuhan cinta itu agar tidak layu terlebih mati.
Satu dari sekian tanda kebesaran-Nya yang agung, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan anak Adam ‘alaihissalam memiliki pasangan hidup dari jenis mereka sendiri, sebagaimana kenikmatan yang dianugerahkan kepada bapak mereka Adam‘alaihissalam. Di saat awal-awal menghuni surga, bersamaan dengan limpahan kenikmatan hidup yang diberikan kepadanya, Adam ‘alaihissalam hidup sendiri tanpa teman dari jenisnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun melengkapi kebahagiaan Adam dengan menciptakan Hawa sebagai teman hidupnya, yang akan menyertai hari-harinya di surga nan indah.
Hingga akhirnya dengan ketetapan takdir yang penuh hikmah, keduanya diturunkan ke bumi untuk memakmurkan negeri yang kosong dari jenis manusia (karena merekalah manusia pertama yang menghuni bumi). Keduanya sempat berpisah selama beberapa lama karena diturunkan pada tempat yang berbeda di bumi (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/81). Mereka didera derita dan sepi sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan mereka kembali.
Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup “sepi” hidup seorang lelaki keturunan Adam dengan memberi istri-istri sebagai pasangan hidupnya. Dia Yang Maha Agung berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Ruum: 21)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan seorang istri dari keturunan anak manusia, yang asalnya dari jenis laki-laki itu sendiri, agar para suami merasa tenang dan memiliki kecenderungan terhadap pasangan mereka. Karena, pasangan yang berasal dari satu jenis termasuk faktor yang menumbuhkan adanya keteraturan dan saling mengenal, sebagaimana perbedaan merupakan penyebab perpisahan dan saling menjauh. (Ruhul Ma’ani, 11/265)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا
Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan Dia jadikan dari jiwa yang satu itu pasangannya agar ia merasa tenang kepadanya…” (Al-A’raf: 189)
Kata Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu: “Yang dimaksudkan dalam ayat di atas adalah Hawa. Allah Subhanahu wa Ta’alamenciptakannya dari Adam, dari tulang rusuk kirinya yang paling pendek. Seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan anak Adam semuanya lelaki sedangkan wanita diciptakan dari jenis lain, bisa dari jenis jin atau hewan, niscaya tidak akan tercapai kesatuan hati di antara mereka dengan pasangannya. Bahkan sebaliknya, akan saling menjauh. Namun termasuk kesempurnaan rahmat-Nya kepada anak Adam, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan istri-istri atau pasangan hidup mereka dari jenis mereka sendiri, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tumbuhkan mawaddah yaitu cinta dan rahmah yakni kasih sayang. Karena seorang lelaki atau suami, ia akan senantiasa menjaga istrinya agar tetap dalam ikatan pernikahan dengannya. Bisa karena ia mencintai istrinya tersebut, karena kasihan kepada istrinya yang telah melahirkan anak untuknya, atau karena si istri membutuhkannya dari sisi kebutuhan belanja (biaya hidupnya), atau karena kedekatan di antara keduanya, dan sebagainya.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1052)
Mawaddah dan rahmah ini muncul karena di dalam pernikahan ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan dua perasaan tersebut. Dengan adanya seorang istri, suami dapat merasakan kesenangan dan kenikmatan, serta mendapatkan manfaat dengan adanya anak dan mendidik mereka. Di samping itu, ia merasakan ketenangan, kedekatan dan kecenderungan kepada istrinya. Sehingga secara umum tidak didapatkan mawaddah dan rahmah di antara sesama manusia sebagaimana mawaddah dan rahmah yang ada di antara suami istri. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 639)
Allah Subhanahu wa Ta’ala tumbuhkan mawaddah dan rahmah tersebut setelah pernikahan dua insan. Padahal mungkin sebelumnya pasangan itu tidak saling mengenal dan tidak ada hubungan yang mungkin menyebabkan adanya kasih sayang, baik berupa hubungan kekerabatan ataupun hubungan rahim. Al-Hasan Al-Bashri, Mujahid, dan ‘Ikrimah rahimuhumullahberkata: “Mawaddah adalah ibarat/kiasan dari nikah (jima‘) sedangkan rahmah adalah ibarat/kiasan dari anak.” Adapula yang berpendapat, mawaddah adalah cinta seorang suami kepada istrinya, sedangkan rahmah adalah kasih sayang suami kepada istrinya agar istrinya tidak ditimpa kejelekan. (Ruhul Ma’ani 11/265, Fathul Qadir 4/263)

Cinta Suami Istri adalah Anugerah Ilahi

Rasa cinta yang tumbuh di antara suami istri adalah anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada keduanya, dan ini merupakan cinta yang sifatnya tabiat. Tidaklah tercela orang yang senantiasa memiliki rasa cinta asmara kepada pasangan hidupnya yang sah. Bahkan hal itu merupakan kesempurnaan yang semestinya disyukuri. Namun tentunya selama tidak melalaikan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ. وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari zikir/mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun: 9)
رِجَالٌ لاَ تُلْهِِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ
Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah… “ (An-Nur: 37) (Ad-Da`u wad Dawa`, Ibnul Qayyim, hal. 293, 363)
Juga, cinta yang merupakan tabiat manusia ini tidaklah tercela selama tidak menyibukkan hati seseorang dari kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Dzat yang sepantasnya mendapat kecintaan tertinggi. Karena Dia Yang Maha Agung mengancam dalam firman-Nya:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيْلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ
Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24)

Kecintaan kepada Istri

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling mulia dan sosok yang paling sempurna, dianugerahi rasa cinta kepada para istrinya. Beliau nyatakan dalam sabdanya:
حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُنْيَا النِّسَاءُ وَ الطِّيْبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصَّلاَةِ
Dicintakan kepadaku dari dunia kalian1, para wanita (istri) dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.”2
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh shahabatnya yang mulia, ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu:
أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: عَائِشَةُ. فَقُلْتُ: مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ : أَبُوْهَا
“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab: “Aisyah.”
Aku (‘Amr ibnul Ash) berkata: “Dari kalangan lelaki?”
“Ayahnya (Abu Bakar),” jawab beliau.3
Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata membela dan memuji Khadijah bintu Khuwailid radhiallahu ‘anha ketika ‘Aisyahradhiallahu ‘anha cemburu kepadanya:
إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

Sesungguhnya aku diberi rizki yaitu mencintainya.” 4
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah ingin menjadi perantara dan penolong seorang suami yang sangat mencintai istrinya untuk tetap mempertahankan istri yang dicintainya dalam ikatan pernikahan dengannya. Namun si wanita enggan dan tetap memilih untuk berpisah, sebagaimana kisah Mughits dan Barirah. Barirah5 adalah seorang sahaya milik salah seorang dari Bani Hilal. Sedangkan suaminya Mughits adalah seorang budak berkulit hitam milik Bani Al-Mughirah. Barirah pada akhirnya merdeka, sementara suaminya masih berstatus budak. Ia pun memilih berpisah dengan suaminya diiringi kesedihan Mughits atas perpisahan itu. Hingga terlihat Mughits berjalan di belakang Barirah sembari berlinangan air mata hingga membasahi jenggotnya, memohon kerelaan Barirah untuk tetap hidup bersamanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada paman beliau, Al-’Abbas radhiallahu ‘anhu:
يَا عَبَّاسُ, أَلاَ تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيْثٍ بَرِيْرَةَ، وَمِنْ بُغْضِ بَرِيْرَةَ مُغِيْثًا؟ فَقاَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ رَاجَعْتِهِ. قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ تَأْمُرُنِي؟ قَالَ: إِنَّمَا أَنَا أَشْفَعُ. قَالَتْ: لاَ حَاجَةَ لِي فِيْهِ
Wahai paman, tidakkah engkau merasa takjub dengan rasa cinta Mughits pada Barirah dan rasa benci Barirah terhadap Mughits?”
Nabi 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Barirah: “Seandainya engkau kembali kepada Mughits.” Barirah bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkan aku?”
Tidak,” kata Rasulullah, “Akan tetapi aku hanya ingin menolongnya.”
“Aku tidak membutuhkannya,” jawab Barirah.6

Tiga Macam Cinta Menurut Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu

Perlu diketahui oleh sepasang suami istri, menurut Al-Imam Al-’Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar yang lebih dikenal dengan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu, ada tiga macam cinta dari seorang insan kepada insan lainnya:
Pertama: Cinta asmara yang merupakan amal ketaatan. Yaitu cinta seorang suami kepada istri atau budak wanita yang dimilikinya. Ini adalah cinta yang bermanfaat. Karena akan mengantarkan kepada tujuan yang disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam pernikahan, akan menahan pandangan dari yang haram dan mencegah jiwa/hati dari melihat kepada selain istrinya. Karena itulah, cinta seperti ini dipuji di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan di sisi manusia.
Kedua: Cinta asmara yang dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan menjauhkan dari rahmat-Nya. Bahkan cinta ini paling berbahaya bagi agama dan dunia seorang hamba. Yaitu cinta kepada sesama jenis, seorang lelaki mencintai lelaki lain (homo) atau seorang wanita mencintai sesama wanita (lesbian). Tidak ada yang ditimpa bala dengan penyakit ini kecuali orang yang dijatuhkan dari pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, hingga ia terusir dari pintu-Nya dan jauh hatinya dari AllahSubhanahu wa Ta’ala. Penyakit ini merupakan penghalang terbesar yang memutuskan seorang hamba dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Cinta yang merupakan musibah ini merupakan tabiat kaum nabi Luth ‘alaihissalam hingga mereka lebih cenderung kepada sesama jenis daripada pasangan hidup yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan:
لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُوْنَ
Demi umurmu (ya Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan.” (Al-Hijr: 72)
Obat dari penyakit ini adalah minta tolong kepada Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, berlindung kepada-Nya dengan sebenar-benarnya, menyibukkan diri dengan berdzikir/mengingat-Nya, mengganti rasa itu dengan cinta kepada-Nya dan mendekati-Nya, memikirkan pedihnya akibat yang diterima karena cinta petaka itu dan hilangnya kelezatan karena cinta itu. Bila seseorang membiarkan jiwanya tenggelam dalam cinta ini, maka silahkan ia bertakbir seperti takbir dalam shalat jenazah7. Dan hendaklah ia mengetahui bahwa musibah dan petaka telah menyelimuti dan menyelubunginya.
Ketiga: Cinta yang mubah yang datang tanpa dapat dikuasai. Seperti ketika seorang lelaki diceritakan tentang sosok wanita yang jelita lalu tumbuh rasa suka di hatinya. Atau ia melihat wanita cantik secara tidak sengaja hingga hatinya terpikat. Namun rasa suka/ cinta itu tidak mengantarnya untuk berbuat maksiat. Datangnya begitu saja tanpa disengaja, sehingga ia tidak diberi hukuman karena perasaannya itu. Tindakan yang paling bermanfaat untuk dilakukan adalah menolak perasaan itu dan menyibukkan diri dengan perkara yang lebih bermanfaat. Ia wajib menyembunyikan perasaan tersebut, menjaga kehormatan dirinya (menjaga ‘iffah) dan bersabar. Bila ia berbuat demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberinya pahala dan menggantinya dengan perkara yang lebih baik karena ia bersabar karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjaga ‘iffah-nya. Juga karena ia meninggalkan untuk menaati hawa nafsunya dengan lebih mengutamakan keridlaan AllahSubhanahu wa Ta’ala dan ganjaran yang ada di sisi-Nya. (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 370-371)
Bila cinta kepada pasangan hidup, kepada suami atau kepada istri, merupakan perkara kebaikan, maka apa kiranya yang mencegah seorang suami atau seorang istri untuk mencintai, atau paling tidak belajar mencintai teman hidupnya?Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.
Catatan kaki:
1 Tiga perkara ini (wanita, minyak wangi dan shalat) dinyatakan termasuk dari dunia. Maknanya adalah: ketiganya ada di dunia. Kesimpulannya, beliau menyatakan bahwa dicintakan kepadaku di alam ini tiga perkara, dua yang awal (wanita dan minyak wangi) termasuk perkara tabiat duniawi, sedangkan yang ketiga (shalat) termasuk perkara diniyyah (agama). (Catatan kaki Misykatul Mashabih 4/1957, yang diringkas dari Al-Lam’aat, Abdul Haq Ad-Dahlawi)
HR. Ahmad 3/128, 199, 285, An-Nasa`i no. 3939 kitab ‘Isyratun Nisa’ bab Hubbun Nisa`. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain (1/82)
3
 HR. Al-Bukhari no. 3662, kitab Fadha`il Ashabun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bab Qaulin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Lau Kuntu Muttakhidzan Khalilan” dan Muslim no. 6127 kitab Fadha`ilush Shahabah, bab Min Fadha`il Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.
HR. Muslim no. 6228 kitab Fadha`ilus Shahabah, bab Fadha`il Khadijah Ummul Mu`minin radhiallahu ‘anha
5 Disebutkan bahwa Barirah memiliki paras yang cantik, tidak berkulit hitam. Beda halnya dengan Mughits, suaminya. Barirah menikah dengan Mughits dalam keadaan ia tidak menyukai suaminya. Dan ini tampak ketika Barirah telah merdeka, ia memilih berpisah dengan suaminya yang masih berstatus budak. Dimungkinkan ketika masih terikat dalam pernikahan dengan suaminya, Barirah memilih bersabar di atas hukum Allah 
Subhanahu wa Ta’ala walaupun ia tidak menyukai suaminya. Dan ia tetap tidak menampakkan pergaulan yang buruk kepada suaminya sampai akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’alamemberikan kelapangan dan jalan keluar baginya. (Fathul Bari, 9/514)
6 Lihat hadits dalam 
Shahih Al-Bukhari no. 5280-5282, kitab Ath-Thalaq, bab Khiyarul Amati Tahtal ‘Abd dan no. 5283, bab Syafa’atun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam fi Zauji Barirah.
7 Artinya dia telah mati
(Sumber: Majalah Asy Syariahh No. 24/II/1427 H/2006 halaman 78 s.d. 81, judul: Mawaddah, Mahabbah & Rahmah dalam Kehidupan Sepasang Insan, penulis: Al Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al Atsariyyah, URL sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=368)

Rabu, 30 Juni 2010

Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang paling mulia akhlaknya


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :
 “ Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang paling terpuji akhlaknya “ (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 179).
          Akhlak yang terpuji -Lihat di dalam Ihya’ Ulumuddin karya al-Ghazali 3 / 52 – 70, Fathul Baari karya al-‘Asqalaani 10 / 456 dan 459, dan ‘Aun al-Ma’bud karya al-‘Adhzim Abadi 13 / 107- : al-Khuluq dan al-Khalq adalah dua ibarat yang dipergunakan secara bersamaan, dikatakan : Fulan mempunyai al-Khuluq atau al-Khalq yang terpuji, yang bermakna kebaikan akhlak secara batin maupun lahir. Berarti yang dimaksud dengan al-Khalq adalah bentuk lahiriah, dan yang dimaksud dengan al-Khuluq adalah gambaran yang batin. Hal itu dikarenakan manusia terdiri atas fisik jasmani yang dapat terlihat oleh mata penglihatan dan ruh dan jiwa yang dapat dijangkau dengan hati sanubari. Dan masing-masing dari keduanya memiliki keadaan dan bentuk baik itu buruk ataukah indah. Al-Khuluq adalah ibarat akan keadaan jiwa yang teguh, dan dari jiwa yang teguh inilah akan menghadirkan perbuatan-perbuatan yang dengan sangat mudah dan gampang tanpa membutuhkan pemikiran dan penalaran.
Dan apabila dari keadaan tersebut akan menghadirkan perbuatan-perbuatan yang baik dan terpuji baik ditinjau dari sisi akal sehat maupun syara’, maka keadaan jiwa tersebut dinamakan sengan akhlak yang terpuji. Dan apabila dari keadaan jiwa tersebut menghadirkan perbuatan-perbuatan yang buruk maka keadaan jiwa tersebut yang menjadi rangka acuannya dinamakan sebagai akhlak yang buruk. Dan seorang manusia tidak akan dikatakan memiliki akhlak tertentu yang terpuji hingga akhlak itu benar-benar kokoh berada didalam dirinya secara kokoh dan teguh. Dan akan menghadirkan bermacam perbuatan dengan sangat mudah tanpa adanya pemikiran lebih lanjut. Adapun seseorang yang mengupayakan  sebuah amalan dengan kesungguhan dan melalui suatu pertimbangan maka tidaklah dikatakan bahwa perbuatan ini sebagai akhlaknya …
Dan pemisalan akan hal itu, seseorang yang berupaya untuk menyerahkan sejumlah hartanya untuk sebuah keperluan yang mendadak atau berusaha untuk diam tatkala marah dengan upaya yang bersungguh-sunguh dan melalui sebuah pertimbangan, tidaklah dikatakan bahwa kedermawanan dan kelebutan sebagai akhlaknya.
          Sesungguhnya bentuk fisik tidak akan dapat dirubah berbeda halnya dengan akhlak yang berlaku sebaliknya dari hal itu, yang mana didapati da’wah Islam kepada akhlak-akhlak yang mulia  dan Amar ma’ruf Nahi mungkar. Dan juga dijumpai ada sekian banyak wasiat, nasihat dan pengajaran adab. Allah ta’ala berfirman :
          “ Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum hingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka “ (Surah ar-Ra’ad : 11).
Maka perubahan pada diri seseorang dari akhlak-akhlak yang buruk menuju akhlak-akhlak yang terpuji dan mengupayakan akhlak-akhlak terpuji lainnya yang baru adalah suatu yang memungkinkan dengan kesungguhan dan melatih jiwa.  Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah berdoa memohon kepada Rabb beliau untuk diarahkan kepada akhlak-akhlak yang terpuji dan mengharapkan taufiq dari-Nya untuk dihiasi dengan akhlak-akhlak tersebut :
 “ Wahai Allah  berilah aku petunjuk-Mu kepada akhlak yang mulia yang tidak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk kepada akhlak yang mulia tersebut selain Engkau, dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada seorangpun yang dapat memalingkannya dariku selain Engkau “ (Diriwayatkan oleh Muslim didlaam Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, bab. Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan du’auhu bil-lail).
Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga mewasiatkan :
 “ Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang terpuji “ (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1618).
          Akhlak adalah sifat manusia yang nampak dalam pergaulannya dengan orang lain, yang dapat berupa akhlak yang terpuji ataukah akhlak yang tercela. Akhlak yang terpuji secara garis besarnya menempatkan dirimu bersama selainmu lalu engkau berlaku bijak dari dalam dirimu bukan bagi dirimu. Dan secara rinci berupa, sifat pemaaf, kelembutan, kedermawanan, sabar, dapat menahan diri dari segala gangguan, pengasih, penyayang, – berusaha – memenuhi segala kebutuhan –orang lain -, saling mencintai, bersikap lunak dan lain sebagainya, sedangkan akhlak yang tercela adalah sebaliknya …. Akhlak sendiri adalah sifat bawaan masing-masing manusia, dan mereka bertingkat-tingkat dalam hal tersebut. Maka siapa saja yang lebih menonjol akhlak yang terpuji dari sifat bawaannya, jikalau tidak maka dia diperintahkan untuk berupaya dengan kesungguhan hati untuk meraih hal tersebut hingga akhlaknyapun menjadi terpuji, dan demikian pula jikalau manusia itu lemah, maka dia yang lemah ini mesti sering berlatih hingga menjadi kuat.
          Dan sesungguhnya akhlak yang terpuji mempunyai hasil yaitu tanda-tanda yang menunjukkan keberadaan akhlak yang terpuji tersebut. Ada yang mengatakan : Bahwa akhlak yang terpuji adalah dengan wajah yang berseri-seri, bermurah hati, menghalau setiap gangguan, dan memberi bantuan . Ada yang mengatakan : Akhlak yang terpuji adalah dengan tidak memusuhi siapa saja yang memusuhinya disebabkan kuatnya ma’rifah dia kepada kepada Allah.
Ada yang mengatakan : Bahwa akhlak yang terpuji adalah dengan dekat kepada setiap manusia namun sebagai seorang yang asing jika berada ditengah-tengah mereka..
Ada yang mengatakan bahwa akhlak yang terpuji adalah dengan menjadikan setiap makhluk ridha baik dalam keadaan lapang atau dalam keadaan sempit. Ada yang berpendapat bahwa akhlak yang terpuji adalah keridhaan dari Allah ta’ala. Ada yang mengatakan : Bahwa akhlak yang terpuji yang paling rendah adalah dengan  kesanggupan menanggung cobaan, tidak mengharapkan ganjaran perbuatan, pengasih terhadap yang berlaku dhalim kepadanya, memintakannya ampunan, dan menyayanginya.
Ada yang mengatakan bahwa  yang dimaksud dengan akhlak terpuji adalah dengan tidak menuduh al-Haq – Allah – dalam pembeian rizki-Nya, percaya kepada-Nya, merasa tenang akan penunaian janji-Nya sehingga diapun mentaatinya dan tidak bermaksiat kepada-Nya dalam setiap perkara antara dirinya dan Allah, dan antara dirinya dan semua manusia.
Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan akhlak yang terpuji adalah yang memiliki tiga sifat : Menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang haram, mencari setiap yang halal, dan bersikap lapang kepada yang diurusnya. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan akhlak yang terpuji adalah : Dengan menampik setiap pengaruh yang timbul dari perangai buruk  kaum manusia setelah anda dapat menjangkau al-Haq.
Dan ada yang mengatakan : Akhlak yang terpuji adalah tidak adanya keinginan yang anda hendak raih selain Allah ta’ala.
          Sebagian ulama mengumpulkan tanda-tanda akhlak yang terpuji, dan mengatakan : Akhlak yang terpuji adalah jikalau seseorang memiliki rasa malu, sedikit menebar gangguan, seringkali berbuat kebajikan, lisan yang jujur, sedikit berbicara, banyak melakukan amal. Jarang melakukan kesalahan dan jarang ikut campur urusan orang lain, sebagai seorang yang baik, berwibawa, sabar, mau berterima kasih, ridha, lemah lembut, santun, menjaga kesucian diri dan penyayang  bukan sebagai seorang yang senang melaknat, atau senang mencela, mengadu domba, senang menyebar ghibah, tidak sering tergesa-gesa, tidak dengki, tidak kikir, tidak hasad,  sebagai seorang dengan wajah yang murah senyum, berseri-seri riang, cinta karena Allah, benci karena Allah, ridha karena Allah dan marah karena Allah.
          Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :
 “ Tidak ada amalan  yang diletakkan di atas al-Mizan yang lebih berat daripada akhlak yang mulia. Dan sesungguhnya seseorang yang berakhlak mulia akan mencapai derajat seorang yang berpuasa dan mendirikan shalat” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1629).
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :
 “ Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang terpuji akan mencapai derajat seorang yang berpuasa dan mengerjakan shalat “ (Shahih Sunan Abu Daud no. 4013).
Dan seorang yang berakhlak mulia akan meraih keutamaan yang agung ini , dikarenakan seorang yang berpuasa dan mengerjakan shalat pada malam hari, keduanya bersungguh-sungguh menghadapi hawa nafsu mereka, sedangkan seorang mulia akhlaknya bersama kaum manusia bersamaan dengan tabi’at mereka yang bermacam-macam serta akhlak mereka yang berbeda-beda, seolah-olah dia menghadapi sekian banyak jiwa, maka diapun akan mendapatkan apa yang didapatkan oleh seorang yang berpuasa dan yang mengerjakan shalat diwaktu malam dalam nilai ketaatan, maka keduanyapun setara dalam derajat yang sama, bahkan terkadang yang berakhlak mulia memiliki nilai tambah.
http://kautsarku.wordpress.com