Kamis, 17 Desember 2009

Shalat Dhuha Yang Begitu Menakjubkan



Setiap orang pasti senang untuk melakukan amalan sedekah. Bahkan kita pun diperintahkan setiap harinya untuk bersedekah dengan seluruh persendian. Ternyata ada suatu amalan yang bisa menggantikan amalan sedekah tersebut yaitu shalat dhuha. Simak saja pembahasan berikut ini.

Keutamaan Shalat Dhuha
Di antara keutamaannya, shalat Dhuha dapat menggantikah kewajiban sedekah seluruh persendian
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.[1]

Padahal persendian yang ada pada seluruh tubuh kita sebagaimana dikatakan dalam hadits dan dibuktikan dalam dunia kesehatan adalah 360 persendian. ‘Aisyah pernah menyebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِى آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلاَثِمَائَةِ مَفْصِلٍ

Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360 persendian.”[2]

Hadits ini menjadi bukti selalu benarnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sedekah dengan 360 persendian ini dapat digantikan dengan shalat Dhuha sebagaimana disebutkan pula dalam hadits berikut,

أَبِى بُرَيْدَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « فِى الإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلاَثُمِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً ». قَالُوا فَمَنِ الَّذِى يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوِ الشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ »

“Dari Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.”[3]

An Nawawi mengatakan,  “Hadits dari Abu Dzar adalah dalil yang menunjukkan keutamaan yang sangat besar dari shalat Dhuha dan menunjukkannya kedudukannya yang mulia. Dan shalat Dhuha bisa cukup dengan dua raka’at.”[4]

Asy Syaukani mengatakan,  “Hadits Abu Dzar dan hadits Buraidah menunjukkan keutamaan yang luar biasa dan kedudukan yang mulia dari Shalat Dhuha. Hal ini pula yang menunjukkan semakin disyari’atkannya shalat tersebut. Dua raka’at shalat Dhuha sudah mencukupi sedekah dengan 360 persendian. Jika memang demikian, sudah sepantasnya shalat ini dapat dikerjakan rutin dan terus menerus.”[5]

Keutamaan shalat Dhuha lainnya disebutkan dalam hadits berikut,

عَنْ نُعَيْمِ بْنِ هَمَّارٍ الْغَطَفَانِىِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ ».

Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.[6]

Penulis ‘Aunul Ma’bud –Al ‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.”[7]

Hukum Shalat Dhuha

Menurut pendapat yang paling kuat, hukum shalat Dhuha adalah sunnah secara mutlaq dan boleh dirutinkan. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah dalil yang menunjukkan keutamaan shalat Dhuha yang telah disebutkan. Begitu pula shalat Dhuha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wasiatkan kepada Abu Hurairah untuk dilaksanakan. Nasehat kepada Abu Hurairah pun berlaku bagi umat lainnya. Abu Hurairah mengatakan,

أَوْصَانِى خَلِيلِى - صلى الله عليه وسلم - بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى ، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

Kekasihku –yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- mewasiatkan tiga nasehat padaku: [1] Berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] Melaksanakan shalat Dhuha dua raka’at, dan [3] Berwitir sebelum tidur.[8]

Asy Syaukani mengatakan, “Hadits-hadits yang menjelaskan dianjurkannya shalat Dhuha amat banyak dan tidak mungkin mencacati satu dan lainnya.”[9]

Sedangkan dalil bahwa shalat Dhuha boleh dirutinkan adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Aisyah ,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [10]

Waktu Pelaksanaan Shalat Dhuha

Shalat Dhuha dimulai dari waktu matahari meninggi hingga mendekati waktu zawal (matahari bergeser ke barat).[11]

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan bahwa waktunya adalah mulai dari matahari setinggi tombak –dilihat dengan pandangan mata- hingga mendekati waktu zawal. Lalu beliau jelaskan bahwa waktunya dimulai kira-kira 20 menit setelah matahari terbit, hingga 10 atau 5 menit sebelum matahari bergeser ke barat.[12]

Sedangkan Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) menjelaskan bahwa waktu awal shalat Dhuha adalah sekitar 15 menit setelah matahari terbit.[13]

Jadi, silakan disesuaikan dengan terbitnya matahari di masing-masing daerah dan kami tidak bisa memberitahukan jam pastinya shalat Dhuha tersebut dimulai dan berakhir. Dan setiap hari waktu terbit matahari pun berbeda.

Sedangkan waktu utama mengerjakan shalat Dhuha adalah di akhir waktu[14], yaitu keadaan yang semakin panas. Dalilnya adalah,

أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلاَةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ. إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةُ الأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ ».

Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Waktu terbaik) shalat awwabin (nama lain untuk shalat Dhuha yaitu shalat untuk orang yang taat atau kembali untuk taat[15]) adalah ketika anak unta merasakan terik matahari.[16]

An Nawawi mengatakan, “Inilah waktu utama untuk melaksanakan shalat Dhuha. Begitu pula ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa ini adalah waktu terbaik untuk shalat Dhuha. Walaupun boleh pula dilaksanakan ketika matahari terbit hingga waktu zawal.”[17]

Jumlah Raka’at Shalat Dhuha


Jumlah raka’at shalat Dhuha, minimalnya adalah dua raka’at sedangkan maksimalnya adalah tanpa batas, menurut pendapat yang paling kuat[18]. Jadi boleh hanya dua raka’at, boleh empat raka’at, dan seterusnya asalkan jumlah raka’atnya genap. Namun jika ingin dilaksakan lebih dari dua raka’at, shalat Dhuha tersebut dilakukan setiap dua raka’at salam.

Dalil minimal shalat Dhuha adalah dua raka’at sudah dijelaskan dalam hadits-hadits yang telah lewat. Sedangkan dalil yang menyatakan bahwa maksimal jumlah raka’atnya adalah tak terbatas, yaitu hadits,

مُعَاذَةُ أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى صَلاَةَ الضُّحَى قَالَتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ.

Mu’adzah pernah menanyakan pada ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- berapa jumlah raka’at shalat Dhuha yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? ‘Aisyah menjawab, “Empat raka’at dan beliau tambahkan sesuka beliau.[19]

Bolehkah Seorang Pegawai (Bawahan) Melaksanakan Shalat Dhuha?

Mungkin setiap pegawai punya keinginan untuk melaksanakan shalat Dhuha. Namun perlu diperhatikan di sini bahwa melaksanakan tugas kantor tentu lebih utama daripada melaksanakan shalat Dhuha. Karena menunaikan tugas dari atasan adalah wajib sedangkan shalat Dhuha adalah amalan yang sunnah. Maka sudah seharusnya amalan yang wajib lebih didahulukan dari amalan yang sunnah. Hal ini berbeda jika kita menjalankan usaha sendiri (wirausaha) atau kita adalah pemilik perusahaan, tentu sekehendak kita ingin menggunakan waktu. Sedangkan kalau kita sebagai bawahan atau pegawai, kita tentu terikat aturan pekerjaan dari atasan.

Maka kami nasehatkan di sini, agar setiap pegawai lebih mendahulukan tanggung jawabnya sebagai pegawai daripada menunaikan shalat Dhuha. Sebagai solusi, pegawai tersebut bisa mengerjakan shalat Dhuha sebelum berangkat kantor. Lihat penjelasan waktu shalat Dhuha yang kami terangkan di atas.

Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) pernah menjelaskan, “Tidak selayaknya bagi seorang pegawai melalaikan pekerjaan dari atasan yang hukumnya lebih wajib dari sekedar melaksanakan shalat sunnah. Shalat Dhuha sudah diketahui adalah shalat sunnah. Oleh karenanya, hendaklah seorang pegawai tidak meninggalkan pekerjaan yang jelas lebih wajib dengan alasan ingin melaksanakan amalan sunnah. Mungkin pegawai tersebut bisa melaksanakan shalat Dhuha di rumahnya sebelum ia berangkat kerja, yaitu setelah matahari setinggi tombak. Waktunya kira-kira 15 menit setelah matahari terbit.” Demikian Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah no. 19285.[20]

Bolehkah Melaksanakan Shalat Dhuha secara Berjama’ah?

Mayoritas ulama ulama berpendapat bahwa shalat sunnah boleh dilakukan secara berjama’ah ataupun sendirian (munfarid) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan dua cara ini, namun yang paling sering dilakukan adalah secara sendirian (munfarid). Perlu diketahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat bersama Hudzaifah; bersama Anas, ibunya dan seorang anak yatim; beliau juga pernah mengimami  para sahabat di rumah ‘Itban bin Malik[21]; beliau pun pernah melaksanakan shalat bersama Ibnu ‘Abbas.[22]

Ibnu Hajar Al Asqolani ketika menjelaskan hadits Ibnu ‘Abbas yang berada di rumah Maimunah dan melaksanakan shalat malam bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini menunjukkan dibolehkannya melakukan shalat sunnah secara berjama’ah.”[23]
An Nawawi tatkala menjelaskan hadits mengenai qiyam Ramadhan (tarawih), beliau rahimahullah mengatakan, “Boleh mengerjakan shalat sunnah secara berjama’ah. Namun pilihan yang paling bagus adalah dilakukan sendiri-sendiri (munfarid) kecuali pada beberapa shalat khusus seperti shalat ‘ied, shalat kusuf (ketika terjadi gerhana), shalat istisqo’ (minta hujan), begitu pula dalam shalat tarawih menurut mayoritas ulama.”[24]

Ada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengenai hukum mengerjakan shalat nafilah (shalat sunnah) dengan berjama’ah. Syaikh rahimahullah menjawab,
“Apabila seseorang melaksanakan shalat sunnah terus menerus secara berjama’ah, maka ini adalah sesuatu yang tidak disyari’atkan. Adapun jika dia melaksanakan shalat sunnah tersebut kadang-kadang secara berjama’ah, maka tidaklah mengapa karena terdapat petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini seperti  shalat malam yang beliau lakukan bersama Ibnu ‘Abbas[25]. Sebagaimana pula beliau pernah melakukan shalat bersama Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan anak yatim di rumah Ummu Sulaim[26], dan masih ada contoh lain semisal itu.”[27]

Namun kalau shalat sunnah secara berjama’ah dilakukan dalam rangka pengajaran, maka ini diperbolehkan karena ada maslahat. Ibnu Hajar ketika menjelaskan shalat Anas bersama anak yatim di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berjama’ah, beliau mengatakan, “Shalat sunnah yang utama adalah dilakukan secara munfarid (sendirian) jika memang di sana tidak ada maslahat seperti untuk mengajarkan orang lain. Namun dapat dikatakan bahwa jika shalat sunnah secara berjama’ah dilakukan dalam rangka pengajaran, maka ini dinilai lebih utama, lebih-lebih lagi pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang bertugas untuk memberi contoh pada umatnya, -pen).”

Intinya adalah:
1. Shalat sunnah yang utama adalah shalat sunnah yang dilakukan secara munfarid (sendiri) dan lebih utama lagi dilakukan di rumah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِى بُيُوتِكُمْ ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ

Hendaklah kalian manusia melaksanakan shalat (sunnah) di rumah kalian karena sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari no. 731)

2. Terdapat shalat sunnah tertentu yang disyari’atkan secara berjama’ah seperti shalat tarawih.

3. Shalat sunnah selain itu –seperti shalat Dhuha dan shalat tahajud- lebih utama dilakukan secara munfarid dan boleh dilakukan secara berjama’ah namun tidak rutin atau tidak terus menerus, akan tetapi kadang-kadang.

4. Jika memang ada maslahat untuk melakukan shalat sunnah secara berjama’ah seperti untuk mengajarkan orang lain, maka lebih utama dilakukan secara berjama’ah.


Demikian penjelasan singkat dari kami mengenai shalat Dhuha. Semoga bermanfaat.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Disempurnakan di Panggang, Gunung Kidul, 24 Dzulhijah 1430 H


[1] HR. Muslim no.  720.
[2] HR. Muslim no. 1007.
[3] HR. Ahmad, 5/354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi.
[4] Syarh Muslim, An Nawawi, 5/234, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392.
[5] Nailul Author, Asy Syaukani, 3/77, Idaroh At Thob’ah Al Munirah.
[6] HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[7]Aunul Ma’bud, Muhammad Syamsul Haq Al Azhim Abadi, 4/118, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan kedua, tahun 1415 H.
[8] HR. Bukhari no. 1981 dan Muslim no. 721.
[9] Nailul Author, 3/76.
[10] HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.
[11] Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 1/425, Al Maktabah At Taufiqiah.
[12] Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin,hal. 289, Daruts Tsaroya, cetakan pertama, tahun 1424 H.
[13] Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah yang akan kami bawakan selanjutnya.
[14] Idem
[15] Syarh Muslim, 6/30.
[16] HR. Muslim no. 748.
[17] Syarh Muslim, 6/30.
[18] Pendapat ini dipilih juga oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Al Arba’in An Nawawiyah,hal. 289.
[19] HR. Muslim no. 719.
[20] Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhut ‘Ilmiyyah wal Ifta’, 23/423, Darul Ifta’.
[21] Sebagaimana riwayat yang dibawakan oleh penanya.
[22] Al Maqsu’ah Al Fiqhiyyah, Bab Shalat Jama’ah, point 8, 2/9677, Multaqo Ahlul Hadits, Asy Syamilah.
[23] Fathul Baari, 3/421
[24] Syarh Muslim, 3/105, Abu Zakaria Yahya bin Syarf An Nawawi, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah
[25] Hadits muttafaq ‘alaih.
[26] Hadits muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Ash Sholah, Bab Ash Sholah ‘alal Hashir (380) dan Muslim dalam Al Masaajid, Bab Bolehnya shalat sunnah secara berjama’ah 266 (658)
[27] Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 14/231, Asy Syamilah

Sabtu, 12 Desember 2009

DI TELAGA ITU RASUL MENANTI


Jika cinta Rasul tak bertepi, sudahkan kita mencintai dengan semestinya?



Sesungguhnya aku menunggu (kedatangan) kamu sekalian di telaga. Barangsiapa melewati, dia pasti minum. Dan barangsiapa minum, maka dia tidak akan dahaga selamanya.” (HR Al Bukhari)
 
Manusia agung itu memang telah tiada. Setelah dua puluh tiga tahun menebar cahaya Islam dengan penuh cinta dan kasih sayang untuk menyelamatkan kita, manusia, beliau pergi menemui Rabbnya. Kepergiannya membuat seisi dunia menangis. Bukan hanya para sahabat yang begitu sangat mencintainya, tapi mimbar dan tongkat yang selalu menemaninya saaat berkhutbah, pun ikut berguncang hebat tanda keduanya sedang berduka.



Namun, meskipun telah tiada, namun kecintaan sang Nabi kepada kita umatnya tiada pernah henti. Walau terkadang yang dicinta tidak pandai membalas cinta, juga tidak sadar kalau selalu didoakan keselamatan dan ditangisi kesulitan yang menimpanya. Kecintaannya terbawa mati. Bahkan tidak berujung. Cinta itu selalu hadir kapanpun dan bagaimanapun situasinya. Tak kenal suka maupun duka. Tak terbatas dunia dan akhirat. Tak terbedakan di saat aman atau sedang huru hara. Di saat seorang ibu dan seorang anak tidak saling mengenal, sekalipun.


Di sana, di padang mahsyar, ketiga segenap kita disibukkan oleh urusan kita masing-masing. Ketika kita digiring secara kasar menuju pengadilan Tuhan Yang Mahabijaksana. Ketika kita dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tanpa alas kaki. Ketika matahari dengan sinarnya yang membakar hanya berjarak satu hasta dari atas kepala. Ketika rasa haus memcekik tenggorokan. Ketika ini dan itu terjadi, cinta itu kembali hadir. Ya, hadir dalam sebuah telaga yang indah nan menyegarkan. Yang semua orang pasti berharap dapat meneguk airnya di tengah berbagai kesulitan yang mendera.


Anas bin Malik ra pernah bercerita, “Suatu hari, ketika Rasulullah sedang berada di tengah-tengah kami, beliau mengantuk. Mendadak beliau terbangun sambil tersenyum. Kami bertanya, “Kenapa engkau tersenyum, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Baru saja turun sebuah surat kepadaku.” Beliau lalu membaca surat Al Kautsar. Kemudian beliau bertanya, “Tahukah kalian apa itu Al Kautsar?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang tahu.” Beliau bersabda, “Ia adalah sebuah telaga penuh dengan kebajikan yang dijanjikan oleh Tuhanku kepadaku. Pada hari kiamat nanti umatku akan mendatangi telaga itu.” (HR. Muslim).


Ibnu Abbas juga pernah berkata, “Rasulullah ditanya tentang padang mahsyar tempat makhluk menghadap Allah; apakah di sana ada air?” Beliau menjawab, “Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, di sana ada air. Orang-orang yang dikasihi Allah akan mendatangi telaga para nabi. Allah akan mengutus tujuh puluh ribu malaikat dengan tangan memegang tongkat dari neraka yang digunakan untuk menghalau orang-orang kafir dari telaga para nabi. 


Telaga itu benar-benar ada, luas dan indah. Dan sungguh sangat indah. Ia hadir dengan nama yang indah pula, Al Kautsar; nikmat yang banyak. Demikian Abdullah bin Abbas, sepupu Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menuturkan. Keindahan fisik telaga itu tergambar dalam banyak sabda Rasulullah. Terdiri dari empat sudut, telaga itu memancarkan kilatan cahaya bagai kilatan cahaya bintang. Jarak antara sudut yang satu ke sudut yang lain ditempuh dengan perjalanan satu bulan. Telaga itu diisi dengan air yang putih dan bersih, lebih putih dari susu. Rasanya manis, lebih manis dari madu. Aromanya harum semerbak, lebih harum dari minyak kesturi (HR Bukhari). Di salah satu sudut telaga terdapat satu sumber yang mengalir dari surge. Juga ada sepasang kran dari surge. Yang satu terbuat dari emas, dan satunya lagi terbuat dari perak (HR Muslim). Orang yang berhasil meminumnya barang seteguk saja, tak akan pernah lagi merasakan kehausan, selamanya. (HR Tirmidzi).


Kehidupan di padang mahsyar adalah kehidupan yang masa transisi dari rangkaian sebuah perjalanan panjang menuj kehidupan selanjutnya yang abadi. Di kehidupan kita itu kita akan menemui beragam kesulitan yang maha dahsyat , yang tidak akan pernah terkirakan oleh siapapun. Berbaur dengan makhluk dari golongan jin, di sana kita dikumpulkan dan digiring menuju pengadilan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Hakim Yang Mahabijaksana, dalam keadaan telanjang dan hina dina. Kekuasaan yang pernah diberikan kepada kita dimuka bumi telah dicabut. Kita semua menjadi kerdil dan tidak lagi sombong. Kondisi kita waktu itu benar-benar diliputi ketegangan, ketakutan, dan kengerian yang tiada tara.



Kita semua berkumpul jadi satu di bawah terik matahari yang menyengat sangat panas. Desah nafas kita terdengar tersengal-sengal. Tubuh kita berhimpitan satu sama lain, sangat rapat dan tidak ada celah sedikitpun. Keringat pun mengucur dari tubuh kita, jatuh membasahi bumi. Mula-mula hanya setinggi mata kaki, lalu semakin naik sesuai dengan martabat kita di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala; apakah kita termasuk yang beruntung atau yang celaka. Sebuah kehidupan yang sungguh sangat menyesakkan.


Abu Bakar bin Barjan berkata, “Seperti itulah yang terjadi. Seluruh manusia berada di satu tempat. Posisi mereka sama. Tetapi ada salah seorang atau sebagian dari mereka yang minum air di telaga Rasulullah, sementara yang lain tidak bisa. Ada yang berjalan di kegelapan dan berdeak-desakan dengan diterangi cahaya di depannya, dan juga ada yang berjalan dengan melawan arus keringat sendiri yang hampir menenggelamkannya. Semua itu adalah sebagian balasan dari usaha amalnya sewaktu di dunia. Ada juga sebagian dari mereka yang hanya berada di dekat naungan ‘Arsy”. 


Kita berdesak-desakan seperti itu selama seribu tahun , tanpa diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa ta'ala barang sepatah katapun. Sementara kepanikan ini belum selesai, di sisi lain kita di dera kehausan yang belum pernah kita alami sama sekali. Alangkah nikmatnya, jika pada saat itu ada yang menawarkan kepada kita air yang lebih nikmat dari susu dan lebih manis dari madu. Alangkah bahagianya, jika dalam kebingungan itu ada yang menyambut kita dengan senyum tulus tanda cinta dan sayang. Alangkah gembiranya, jika di saat terdesak itu ada yang membela kita dengan permohonan ampun dan do’a-do’anya yang menyejukkan. 


Hari ini kita belum merasakan kesulitan itu. Hari ini kita masih bisa tertawa. Hari ini kita masih bisa bercanda. Tetapi suatu saat nanti kita akan mengalami kehausan yang sangat, dan kala itu tidak ada yang minum kecuali yang pernah memberi minum orang lain karena Allah, tidak ada yang diberi makan kecuali orang yang pernah memberi makan orang lain karena Allah, tidak ada orang yang diberi pakaian kecuali orang yang pernah memberi pakaian orang lain karena Allah, dan tidak ada orang yang diberi kepercayaan kecuali orang yang pernah bertawakkal kepada Allah.


Di telaga itu Rasulullah menanti umatnya, dengan luapan cinta dan kasih sayangnya, menyambut mereka yang kehausan. Beliau sangat mengenali umatnya, karena memang mereka memiliki tanda-tanda yang tidak dipunyai siapapun dari umat lain. “Kalian akan datang kepadaku dengan muka, lengan, dan betis yang berkilauan karena bekas air wudhu,” Tegas beliau dalam sabdanya.


Memang, telaga dan semua kenikmatan itu bukan akhir dari segalanya. Perjalanan kita menuju persinggahan terakhir; surga atau neraka, masih sangat panjang. Begitupun, bisa mampir dan minum di telaga Rasul itu sungguh sebuah karunia besar. Perjalanan memang belum lagi selesai. Tapi mendapatkan minum dari telaga yang sesudahnya tidak ada lagi haus sungguh sangat di dambakan. Itu sangat meringankan, di hari ketika segalanya berubah begitu mengerikan, panas, haus, dan mencekam.

Hari ini entah di ujung pelarian mana kita menuju. Tapak demi tapak adalah keniscayaan menuju kematian. Di telaga itu, kelak, Rasul setia menanti. Dengan cinta dan kasih sayangnya. Tidak ada yang patut dilakukan, kecuali senantiasa memohon, agar bila tiba saatnya, kita bisa bertemu Rasul di telaga itu, lalu minum dengan sepuas hati.


Di sana, di telaga itu, Rasul menanti.


-Tarbawi Edisi 124 Th.7 Dzulhijjah 1426 H, 19 Januari 2006 M-

BAGAIMANA MENJADI ISTRI SHALIHAH?

AGAR PERNIKAHAN MENJADI AMAL SHALIH KITA


5 hari menjelang ramadhan berakhir kugunakan untuk instrospeksi diri, baik sebagai istri, ibu, pemimpin, anak, dan saudara. Dari hasi pencarian kebaikan, kutemukan tulisan yang sangat baik ini. Semoga aku diberikan taufiq oleh Allah untuk benar-benar mengamalkannya sehingga pernikahan benar-benar menjadi ladang menanam kebaikan untuk dituai di akhirat kelak. Amin. Semoga bermanfaat.


Pernikahan adalah kehidupan yang tidak ringan untuk dijalani. Kekecewan, kemarahan,kesedihan mengiringi gelak tawa bersama suami tercinta. Tak jarang kita harus menjalani episode mengorbankan perasaan demi membahagiakan suami. Alangkah ruginya jika semua jerih payah itu tidak membuat kita semakin bertaqwa dan meraih kedudukan yang tinggi di hadapan Allah ta’la. Terlebih lagi jika justru pernikahan itu yang membuat kita terseret ke neraka. Naudzubillah…


Untuk itu kita butuh ilmu, agar tahu bagaimana caranya meraih surga melalui ibadah pernikahan. Berikut adalah langkah yang harus kita tempuh agar bisa menjadi istri shalihah, yang akan menuai pahala dan kedudukan yang tinggi dengan keshalihan itu..


[1]. Taat Kepada Suaminya
Setelah wali atau orang tua sang isteri menyerahkan kepada suaminya, maka kewajiban taat kepada suami menjadi hak tertinggi yang harus dipenuhi, setelah kewajiban taatnya kepada Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Artinya : Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.” [1]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Artinya : Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya) , dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.” [2]

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang sifat wanita penghuni Surga,
“Artinya : Wanita-wanita kalian yang menjadi penghuni Surga adalah yang penuh kasih sayang, banyak anak, dan banyak kembali (setia) kepada suaminya yang apabila suaminya marah, ia mendatanginya dan meletakkan tangannya di atas tangan suaminya dan berkata, ‘Aku tidak dapat tidur nyenyak hingga engkau ridha.’” [3]

Dikisahkan pada zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang wanita yang datang dan mengadukan perlakuan suaminya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dari Hushain bin Mihshan, bahwasanya saudara perempuan dari bapaknya (yaitu bibinya) pernah mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena ada suatu keperluan. Setelah ia menyelesaikan keperluannya, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah bersuami?” Ia menjawab, “Sudah.” Beliau bertanya lagi, “Bagaimana sikapmu kepada suamimu?” Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi (haknya) kecuali yang aku tidak mampu mengerjakannya.”
Maka, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
“Artinya : Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya karena suamimu (merupakan) Surgamu dan Nerakamu.” [4]

Hadits ini menggambarkan perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk memperhatikan hak suami yang harus dipenuhi isterinya karena suami adalah Surga dan Neraka bagi isteri. Apabila isteri taat kepada suami, maka ia akan masuk Surga, tetapi jika ia mengabaikan hak suami, tidak taat kepada suami, maka dapat menyebabkan isteri terjatuh ke dalam jurang Neraka. Nasalullaahas salaamah wal ‘aafiyah.

Bahkan, dalam masalah berhubungan suami isteri pun, jika sang isteri menolak ajakan suaminya, maka ia akan dilaknat oleh Malaikat, sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Apabila seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur (untuk jima’/bersetubuh) dan si isteri menolaknya [sehingga (membuat) suaminya murka], maka si isteri akan dilaknat oleh Malaikat hingga (waktu) Shubuh.” [5]

Dalam riwayat lain (Muslim) disebutkan: “sehingga ia kembali”. Dan dalam riwayat lain (Ahmad dan Muslim) disebutkan: “sehingga suaminya ridha kepadanya”.
Yang dimaksud “hingga kembali” yaitu hingga ia bertaubat dari perbuatan itu. [6]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang wanita tidak akan bisa menunaikan hak Allah sebelum ia menunaikan hak suaminya. Andaikan suami meminta dirinya padahal ia sedang berada di atas punggung unta, maka ia (isteri) tetap tidak boleh menolak.” [7]

[2]. Banyak Bersyukur Dan Tidak Banyak Menuntut
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Diperlihatkan Neraka kepadaku dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita, mereka kufur.” Para Shahabat bertanya: “Apakah disebabkan kufurnya mereka kepada Allah?” Rasul menjawab: “(Tidak), mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat sesuatu yang jelek pada diri suaminya, maka dia mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu sekalipun.’” [11]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Artinya : Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan dia selalu menuntut (tidak pernah merasa cukup).” [12]

Dalam hadits lain, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Artinya : Sesungguhnya orang yang selalu melakukan kefasikan adalah penghuni Neraka.” Dikatakan, “Wahai Rasulullah, siapakah yang selalu berbuat fasik itu?” Beliau menjawab, “ Para wanita.” Seorang Shahabat bertanya, “Bukankah mereka itu ibu-ibu kita, saudari-saudari kita, dan isteri-isteri kita?” Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi apabila mereka diberi sesuatu, mereka tidak bersyukur. Apabila mereka ditimpa ujian (musibah), mereka tidak bersabar.” [13]


[3]. Isteri Diperintahkan Untuk Tinggal Di Rumah Dan Mengurus Rumah Tangga Dengan Baik

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Artinya : Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [Al-Ahzaab : 33]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar, syaitan akan menghiasinya dari pandangan laki-laki.” [14]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah berkata, “Tidak boleh baginya untuk keluar dari rumahnya kecuali mendapat izin dari suami. Seandainya ia keluar tanpa izin dari suaminya, maka ia telah berlaku durhaka dan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan wanita tersebut berhak mendapatkan hukuman.” [15]

bagi orang yang tidak bersyukur, maka Allah ‘Azza wa Jalla justru akan membuat dirinya seakan-akan serba kekurangan dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang dia dapatkan.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan jaga dirinya dan barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada dirinya.” [16]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memuji orang-orang yang qana’ah (merasa puas) dengan apa yang Allah Ta’ala karuniakan, beliau bersabda:
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, rizkinya cukup, dan Allah memberikan kepuasan terhadap apa yang telah dikaruniakannya.” [17]

[4]. Berhias Dan Mempercantik Diri Untuk Suami, Selalu Tersenyum Dan Tidak Bermuka Masam Di Hadapan Suaminya, Juga Jangan Sampai Ia Memperlihatkan Keadaan Yang Tidak Disukai Oleh Suaminya.

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)- Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” [Ar-Ruum : 21]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Artinya : Sebaik-baik isteri adalah yang menyenangkan jika engkau melihatnya, taat jika engkau menyuruhnya, serta menjaga dirinya dan hartamu di saat engkau pergi.” [19]

[5]. Tidak Boleh Mengungkit-ungkit Apa Yang Pernah Ia Berikan Dari Hartanya Kepada Suaminya Maupun Keluarganya.
Karena menyebut-nyebut pemberian dapat membatalkan pahala. Allah Ta’ala berfirman:
“Artinya ; Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).” [Al-Baqarah : 264]

[6]. Tidak Menyakiti Suami, Baik Dengan Ucapan Maupun Perbuatan.
Seorang isteri tidak boleh memanggil suami dengan kejelekan atau mencaci-makinya karena yang demikian itu dapat menyakiti hati suami.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Artinya : Tidaklah seorang isteri menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya dari para bidadari Surga akan berkata, ‘Janganlah engkau menyakitinya. Celakalah dirimu! Karena ia hanya sejenak berkumpul denganmu yang kemudian meninggalkan- mu untuk kembali kepada kami.” [20]

[7 Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua Dan Kerabat Suami.
Karena seorang isteri tidak dianggap berbuat baik kepada suaminya jika ia memperlakukan orang tua dan kerabatnya dengan kejelekan. Setiap isteri harus memperhatikan kedua orang tua suami dan berbuat baik kepada mereka.

[8] Pandai Menjaga Rahasia Suami Dan Rahasia Rumah Tangga. Jangan Sekali-kali Ia Menyebarluaskannya.
Tidak boleh mengabarkan/ menceritakan suaminya kepada orang lain, tidak membocorkan rahasianya dan tidak membuka apa yang disembunyikan dan tidak membuka aib suaminya. Dan di antara rahasia yang paling dalam adalah perkara ranjang suami-isteri. Sungguh, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hal itu.

[9]. Isteri Harus Bersungguh-Sungguh Dalam Menjaga Keberlangsungan Rumah Tangga Bersama Suami-nya.
Janganlah ia meminta cerai tanpa ada alasan yang disyari’atkan.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Artinya ; Siapa pun isteri yang meminta cerai dari suaminya tanpa alasan yang benar, maka ia tidak akan mencium aroma Surga.” [21]

Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
“ Para isteri yang meminta cerai adalah orang-orang munafik.” [22]

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor - Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa'dah 1427H/Desember 2006]

[1] Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1159), Ibnu Hibban (no. 1291 - al-Mawaarid) dan al-Baihaqi (VII/291), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini diriwayatkan juga dari beberapa Shahabat. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1998).
[2] Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 1296 al-Mawaarid) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiih Mawaariduzh Zham’aan (no. 1081).
[3] Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XIX/140, no. 307) dan Mu’jamul Ausath (VI/301, no. 5644), juga an-Nasa-i dalam Isyratun Nisaa’ (no. 257). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahiihah (no. 287).
[4] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (VI/233, no. 17293), an-Nasa-i dalam ‘Isyratin Nisaa’ (no. 77-83), Ahmad (IV/341), al-Hakim (II/189), al-Baihaqi (VII/291), dari bibinya Husain bin Mihshan radhiyallaahu ‘anhuma. Al-Hakim berkata, “Sanadnya shahih.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[5] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3237, 5193, 5194), Muslim (no. 1436), Ahmad (II/255, 348, 386, 439, 468, 480, 519, 538), Abu Dawud (no. 2141) an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 84), ad-Darimi (II/149-150) dan al-Baihaqi (VII/292), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.
[6] Fat-hul Baari (IX/294-295) .
[7] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1853), Ahmad (IV/381), Ibnu Hibban (no. 1290- al-Mawaarid) dari ‘Abdullah bin Abi Aufa radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Aadabuz Zifaaf (hal. 284).
[8] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5195), Muslim (no. 1026) dan Abu Dawud (no. 2458) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dan lafazh ini milik Muslim.
[9] Syarah Shahiih Muslim (VII/115).
[10] Fat-hul Baari (IX/296).
[11] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 29, 1052, 5197) dan Muslim (no. 907 (17)), Abu ‘Awanah (II/379-380) , Malik (I/166-167, no. 2), an-Nasa-i (III/146, 147, 148) dan al-Baihaqi (VII/294), dari Shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma.
[12] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam Isyratin Nisaa’ (no. 249), al-Baihaqi (VII/294), al-Hakim (II/190) dan ia berkata, “Hadits ini sanadnya shahih, namun al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi, dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 289).
[13] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (III/428, IV/604) dari Shahabat ‘Abdurrahman bin Syabl radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 3058)
[14] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1173), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 6690).
[15] Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (XXXII/281).
[16] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1427) dan Muslim (no. 1034). Lihat Fat-hul Baari (III/294), dari Shahabat Hakim bin Hizam radhiyallaahu ‘anhu
[17] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1054), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma.
[18] Shahiih Washaaya Rasuul lin Nisaa’ (hal. 469-470).
[19] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dari ‘Abdullah bin Salam. Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 3299).
[20] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1174), dari Shahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu
[21] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2226) dan at-Tirmidzi (no. 1187, 2055) dari Shahabat Tsauban radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 2035).
[22] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1186) dari Shahabat Tsauban radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 632) dan Shahiihul Jaami’ (no. 6681). Point 4-9 dinukil dari kitab al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz (hal. 305-309) secara ringkas.

Sumber : Assunnah-Qatar.com

Judul Asli : Ketaatan Isteri Kepada Suaminya

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Jumat, 11 Desember 2009

Siapa Saja Istri Nabi dan Mengapa Dinikahi?


Bismillahirrahmanirrahiem. Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d,

Dalam catatan sirah nabawiyah, ada sebelas orang wanita yang dinikahi oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam, dua di antara mereka meninggal ketika Rasulullah  masih hidup sedangkan sisanya meninggal setelah beliau wafat. Nama-nama isteri beliau adalah:

1. Khodijah binti Khuwailid RA, ia dinikahi oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di Mekkah ketika usia beliau 25 tahun dan Khodijah 40 tahun. Dari pernikahnnya dengan Khodijah Rasulullah  memiliki sejumlah anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki beliau meninggal. Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Rasulullah tidak menikah dengan wanita lain selama Khodijah masih hidup.

2. Saudah binti Zam’ah RA, dinikahi oleh Rasulullah  pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari kenabian beberapa hari setelah wafatnya Khodijah. Ia adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya yang bernama As-Sakron bin Amr.

3. Aisyah binti Abu Bakar RA, dinikahi oleh Rasulullah bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah. Ia dinikahi ketika berusia 6 tahun dan tinggal serumah di bulan Syawwal 6 bulan setelah hijrah pada saat usia beliau 9 tahun. Ia adalah seorang gadis dan Rasulullah tidak pernah menikahi seorang gadis selain Aisyah.
Dengan menikahi Aisyah, maka hubungan beliau dengan Abu Bakar menjadi sangat kuat dan mereka memiliki ikatan emosional yang khusus. Posisi Abu Bakar sendiri sangat pending dalam dakwah Rasulullah baik selama beliau masih hidup dan setelah wafat. Abu Bakar adalah khalifah Rasulullah yang pertama yang di bawahnya semua bentuk perpecahan menjadi sirna.
Selain itu Aisyah ra adalah sosok wanita yang cerdas dan memiliki ilmu yang sangat tinggi dimana begitu banyak ajaran Islam terutama masalah rumah tangga dan urusan wanita yang sumbernya berasal dari sosok ibunda muslimin ini.

4. Hafsoh binti Umar bin Al-Khotob RA, beliau ditinggal mati oleh suaminya Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, kemudian dinikahi oleh Rasulullah pada tahun ketiga Hijriyah. Beliau menikahinya untuk menghormati bapaknya Umar bin Al-Khotob.
Dengan menikahi hafshah putri Umar, maka hubungan emosional antara Rasulullah dengan Umar menjadi sedemikian akrab, kuat dan tak tergoyahkan. Tidak heran karena Umar memiliki pernanan sangant penting dalam dakwah baik ketika fajar Islam baru mulai merekah maupun saat perluasan Islam ke tiga peradaban besar dunia. Di tangan Umar, Islam berhasil membuktikan hampir semua kabar gembira di masa Rasulullah  bahwa Islam akan mengalahkan semua agama di dunia.

5. Zainab binti Khuzaimah RA, dari Bani Hilal bin Amir bin Sho’sho’ah dan dikenal sebagai Ummul Masakin karena ia sangat menyayangi mereka. Sebelumnya ia bersuamikan Abdulloh bin Jahsy akan tetapi suaminya syahid di Uhud, kemudian Rasulullah  menikahinya pada tahun keempat Hijriyyah. Ia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahannya dengan Rasulullah .

6. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah RA, sebelumnya menikah dengan Abu salamah, akan tetapi suaminya tersebut meninggal di bulan Jumada Akhir tahun 4 Hijriyah dengan menngalkan dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Ia dinikahi oleh Rasulullah  pada bulan Syawwal di tahun yang sama.
Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormati Ummu Salamah dan memelihara anak-anak yatim tersebut.

7. Zainab binti Jahsyi bin Royab RA, dari Bani Asad bin Khuzaimah dan merupakan puteri bibi Rasulullah. Sebelumnya ia menikahi dengan Zaid bin Harits kemudian diceraikan oleh suaminya tersebut. Ia dinikahi oleh Rasulullah  di bulan Dzul Qo’dah tahun kelima dari Hijrah.
Pernikahan tersebut adalah atas perintah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala untuk menghapus kebiasaan Jahiliyah dalam hal pengangkatan anak dan juga menghapus segala konskuensi pengangkatan anak tersebut.

8. Juwairiyah binti Al-Harits RA, pemimpin Bani Mustholiq dari Khuza’ah. Ia merupakan tawanan perang yang sahamnya dimiliki oleh Tsabit bin Qais bin Syimas, kemudian ditebus oleh Rasulullah dan dinikahi oleh beliau pada bulan Sya’ban tahun ke 6 Hijrah.
Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormatinya dan meraih simpati dari kabilhnya (karena ia adalah anak pemimpin kabilah tersebut) dan membebaskan tawanan perang.

9. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan RA, sebelumnya ia dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy dan hijrah bersamanya ke Habsyah. Suaminya tersebut murtad dan menjadi nashroni dan meninggal di sana. Ummu Habibbah tetap istiqomah terhadap agamanya. Ketika Rasulullah mengirim Amr bin Umayyah Adh-Dhomari untuk menyampaikan surat kepada raja Najasy pada bulan Muharrom tahun 7 Hijrah. Nabi mengkhitbah Ummu Habibah melalu raja tersebut dan dinikahkan serta dipulangkan kembali ke Madinah bersama Surahbil bin Hasanah.
Sehingga alasan yang paling kuat adalah untuk menghibur beliau dan memberikan sosok pengganti yang lebih baik baginya. Serta penghargaan kepada mereka yang hijrah ke Habasyah karena mereka sebelumnya telah mengalami siksaan dan tekanan yang berat di Mekkah.

10. Shofiyyah binti Huyay bin Akhtob RA, dari Bani Israel, ia merupakan tawan perang Khoibar lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memilihnya dan dimeredekakan serta dinikahinya setelah menaklukan Khoibar tahun 7 Hijriyyah.
Pernikahan tersebut bertujuan untuk menjaga kedudukan beliau sebagai anak dari pemuka kabilah.

11. Maimunah binti Al- Harits RA, saudarinya Ummu Al-Fadhl Lubabah binti Al-Harits. Ia adalah seorang janda yang sudah berusia lanjut, dinikahi di bulan Dzul Qa’dah tahun 7 Hijrah pada saat melaksanakan Umroh Qadho.
Dari kesemua wanita yang dinikahi Rasulullah , tak satupun dari mereka yang melahirkan anak hasil perkawinan mereka dengan Rasulullah, kecuali Khadijatul Kubra seperti yang disebutkan di atas.

Namun Rasulullah  pernah memiliki anak laki-laki selain dari Khadijah yaitu dari seorang budak wanita yang bernama Mariah Al-Qibthiyah yang merupakan hadiah dari Muqauqis pembesar Mesir. Anak itu bernama Ibrahim namun meninggal saat masih kecil.

Demikianlah sekelumit data singkat para istri Rasulullah  yang mulia, dimana secara khusus Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam diizinkan mengawini mereka dan jumlah mereka lebih dari 4 orang, batas maksimal poligami dalam Islam.
Dari kesemuanya itu, umumnya Rasulullah  menikahi mereka karena pertimbangan kemanusiaan dan kelancaran urusan dakwah.

Selain itu ada hikmah yang sangat mendalam di masa kini yaitu semakin banyaknya sumber-sumber ajaran Islam terutama yang berkaitan dengan fiqih wanita, karena memang dari sanalah umumnya pelajaran Rasulullah  tentang wanita itu berasal. Seandainya Rasulullah  hanya beristrikan satu orang saja, maka kajian fiqih wanita sekarang ini akan menjadi sangat sempit karena sumbernya terbatas hanya dari satu orang.

Namun alhamdulillah atas tadbir ilahi, dengan beristri sampai 11 orang, maka sumber itu menjadi cukup banyak. Dan purnalah Islam sebagai agama yang syamil mutakamil.

Sedangkan tuduhan non muslim bahwa Rasulullah  adalah tukang kawin dan kemaruk dengan wanita adalah tuduhan yang sangat menjijikkan sekaligus menyesatkan, karena semuanya hanya dipenuhi dengan kebencian, kedegilan dan kebodohan yang akut serta mencerminkan penuduhnya sebagai tipe mengamat amatiran yang tidak pernah lengkap membaca sirah nabawiyah dengan sumber yang otentik. Semoga Allah menghancurkan angkara murka musuh-musuhnya dan menghinakan orang-orang yang menghina nabi-Nya di dunia ini dan di akhirat kelak, Amien Ya Rabbal `Alamien.

Wallahu A`lam Bish-Showab,

Rabu, 09 Desember 2009

NASEHAT AKHIR TAHUN OLEH FADHILATUS SYAIKH SHALEH AL-FAUZAN

Biografi Singkat Fadhilatus Syaikh Shaleh Fauzan Al-Fauzan.
Ini adalah Nasehat yang mulia, Fadhilatus Syaikh DR. Shaleh bin Fauzan bin Abdillah dari keluarga Al Fauzan, dari suku Asa Syamasiyyah. Beliau lahir tahun 1345 H/1933 M.

Aktifitas dan Jabatan Syaikh Shaleh Al-Fauzan hafizhullah.
1. Beliau adalah mengepalai Lajnah Daimah lil Buhuts wal Ifta’ (Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa) yang berada di Kerajaan Saudi Arabia.
2. Beliau anggota dari Haiah Kibaril Ulama’ (Himpunan Ulama Besar) Saudi Arabia.
3. Beliau anggota dari Komite Fiqh Rabithah Alam Islamiy (Komite Himpunan Ulama Fiqih Dunia) di Mekkah-Saudi Arabia.
4. Beliau juga bertugas di Komite Pengawas Du’at Haji-Saudi Arabia.
5. Beliau juga imam, khatib, dan dosen di Masjid Pangeran Mut’ib ibn Abdul Aziz di al Malzar-Saudi Arabia.
6. Syaikh yang mulia juga berperan dalam mengawasi sejumlah Tesis Magister dan Disertasi Doktoral.
7. Beliau juga berperan aktif di dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di program radio ‘Nuurun‘ala Darb’ dan memberikan kontribusi terhadap penerbitan sejumlah Riset/Penelitian Islami di Lembaga Riset, Studi, Tesis dan Fatwa Islami, yang kemudian diperiksa dan diterbitkan.
8. Beliau aktif didalam menulis dan membantah kebatilan. Begitu juga dengan fatwa beliau hafizhullah telah tersebar diseluruh penjuru dunia Islam. Beliau salah seorang Ahli Fiqih setelah wafat tiga Imam Besar pada Abad ini. Imam Ibnu Baaz, Imam Ibnu Utsaimin, Imam Al-Albani. (Semoga Allah merahmati mereka semua nya)

Dan banyak lagi aktifas beliau yang lain nya yang tidak bisa sebutkan lagi. Saya pernah bertanya langsung kepada Syaikh saya, Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam. Salah seorang murid Syaikh Shaleh Fauzan Al-Fauzan. “Ya Ustadz, Apakah Syaikh Shaleh Fauzan Al-Fauzan masih hidup?” “Iya, beliau masih hidup sampai sekarang. Dan Ulama senior di Saudi Arabia” Jawab Beliau.


(Website resmi Syaikh Shaleh Fauzan : http://www.alfawzan.ws/alfawzan/default.aspx )
(Lihat Biografi beliau lengkap di bulletin kami yang berjudul “Mengenal Ulama, Al-Allamah Al-Fauzan” di group kami “Siapa Bilang Belajar Fiqih (Agama) itu Susah….??? Adakah yg mau belajar….1”
http://www.facebook.com/group.php?v=app_2373072738&gid=98497318509#/topic.php?uid=98497318509&topic=10199 )

 NASEHAT AKHIR TAHUN

Fadhilatus Syaikh Shaleh Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafizhullah berkata :
Segala puji bagi Allah yang telah menetapkan sifat fana bagi dunia ini dan mengabarkan bahwa akhirat adalah negeri abadi, dengan kematian dia membinasakan usia yang panjang.


Saya memuji-Nya atas segenap nikmat-Nya yang tercurah dan saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak di ibadahi selain Allah semata, Dzat Yang Menundukkan segala sesuatu. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Dia telah memperingatkan dari condong kepada negeri ini (akhirat), shalawat serta salam semoga tercurah kepada beliau dan keluarganya beserta para shahabatnya yang taat dan suci sepanjang siang dan malam.

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan pikirkanlah dunia kalian dan betapa cepat dia berlalu. Bersiap-siaplah menyambut akhirat dan kengerian nya. Setiap bulan yang menghampiri seseorang semakin menyeret dia mendekati ajal dan akhiratnya. Sebaik-baik kalian adalah yang panjang umurnya lagi baik amalannya, dan sejelek-jelek kalian adalah yang panjang umurnya lagi buruk amalannya.

Tidak ada selain apakah seseorang diberi pahala atas ketaatan dan kebaikannya atau diganjar dengan dosa atas kejelekan dan kemaksiatannya, kecuali apabila dikatakan fulan telah wafat. Alangkah dekatnya kehidupan dengan kematian. Dan segala yang akan datang pasti datang.

Dan kalian sekarang akan meninggalkan tahun yang telah usai dan usia kalian pun semakin berkurang dan akan menyambut tahun yang kalian tidak tahu apakah kalian akan menyelesaikannya ataukah tidak?! Maka hisablah diri-diri kalian apa yang telah kita perbuat pada tahun yang lalu? Apabila kebaikan, bersyukurlah kepada Allah dan sambunglah kebaikan itu dengan kebaikan. Sedangkan apabila buruk, bertaubatlah kepada Allah darinya dan isi sisa-sisa usia kita (dengan kebaikan) sebelum luput darinya.

Berkata Maimun bin Mihran (semoga Allah meridhai nya-pent), “Tidak ada kebaikan dalam kehidupan kecuali bagi orang yang bertaubat atau seseorang yang beramal shalih mencari derajat yang tinggi.” Yakni orang yang bertaubat, kesalahan-kesalahannya gugur disebabkan taubatnya dan orang yang beramal shalih bersungguh-sungguh dalam menggapai derajat yang tinggi dan selain mereka merugi.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada di dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling nasihat menasihati di dalam kebenaran dan saling nasihat menasihati di dalam kesabaran.” (Q.S Al-Ashr ayat 1 – 3)

Pada ayat ini Allah bersumpah dengan waktu yang merupakan zaman dimana manusia tinggal, bahwa setiap manusia berada di dalam kerugian. Kecuali mereka yang memiliki 4 sifat yang disebutkan; [1] Iman, [2] Amal shalih, [3] Saling nasihat-menasihati di dalam kebenaran dan [4] Saling nasihat menasihati di dalam kesabaran di atas kebenaran.

Surat yang agung ini merupakan tolok ukur amal perbuatan, dengannya seorang mukmin menimbang dirinya sehingga jelaslah baginya apakah dia termasuk golongan yang beruntung atau merugi.

Oleh karena itu Al Imam Asy-Syafi’i berkata, “Seandainya setiap orang mentadabburi surat ini pastilah cukup baginya.” Dan sebagian ulama berkata, “Dahulu orang-orang yang shiddiq merasa malu kepada Allah apabila di hari itu (kualitas) amalannya seperti kemarin hari.” Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak rela hari berganti kecuali amalan kebajikannya bertambah. Dan mereka malu apabila tidak ada kebajikan yang bertambah dan mereka menganggap hal itu sebagai kerugian.

Maka dengan bertambah usia seorang mukmin bertambah pula kebaikannya. Barangsiapa kondisinya seperti ini kehidupan lebih baik darinya daripada kematian. Dan pada doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Ya Allah jadikanlah kehidupan sebagai penambah kebaikan bagiku dan (jadikanlah) kematian sebagai penghenti kejelekan dariku”. [Hadits Shahih, Riwayat Imam Muslim.]

Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Rhadiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang wafat kecuali dia menyesal, apabila dia orang yang baik dia menyesal kenapa tidak lebih baik dan apabila dia orang jahat dia menyesal kenapa dia tidak bertaubat.”
Dan ditampakkan orang-orang yang telah wafat di dalam tidur, ia berkata, “Tidak ada pada kami yang lebih banyak daripada penyesalan dan tidak ada pada kalian yang lebih banyak daripada kelalaian.” Dan sebagian mereka melihat di dalam tidurnya, ia berkata, “Kami menyesal atas suatu yang besar, kami mengetahui tapi kami tidak berbuat sedangkan kalian berbuat tapi tidak mengetahui. Sungguh demi Allah, sekali tasbih atau dua kali atau satu rakaat atau dua rakaat yang terdapat di lembaran (amalan kami) lebih kami cintai daripada dunia dan seisinya.”

Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya setiap amalan tergantung penutupannya. Barangsiapa berbuat baik pada sisa umurnya akan diampuni kesalahannya yang telah lalu, dan barangsiapa berbuat buruk pada sisa umurnya akan dihukum atas kesalahan yang telah lalu dan kesalahan di sisa umurnya. Orang-orang yang telah wafat menyesal atas apa yang telah luput dari berbagai kesenangan dunia yang fana. Apa yang telah berlalu dari dunia walaupun pada masa yang lampau sungguh telah hilang kelezatannya dan tinggal sisa-sisanya dan apabila kematian telah datang seolah-olah itu semua tidak ada.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya. (QS. Asy-Syuara’: 205-207)

Dan pada Shahih Muslim dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda, “Allah mengangkat udzur dari hambanya yang Dia panjangkan umurnya sampai enam puluh tahun.” Dan di dalam Sunan At-Tirmidzi, “Usia ummatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikir dari mereka yang melewati itu.”
Wahai yang bergembira dengan bertambahnya usia, sesungguhnya engkau bergembira atas berkurangnya usiamu. Berkata sebagian ahli hikmah, “Bagaimana bisa bergembira seseorang yang harinya membinasakan bulannya dan bulannya membinasakan tahunnya dan tahunnya membinasakan umurnya. Bagaimana bisa bergembira seseorang yang umurnya menggiringnya kepada ajalnya dan kehidupannya menggiringnya kepada kematiannya.”

Akan didatangkan di hari kiamat seseorang yang paling panjang umurnya di dunia dari golongan kelas atas yang menelantarkan ketaatan kepada Allah dan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, kemudian dicelup di neraka sekali celup, kemudian dikatakan padanya, “Apa engkau pernah merasakan kesenangan di dunia sekali saja? Apa pernah engkau melalui kegembiraan di dunia sebentar saja? Maka ia berkata, “Sungguh tidak pernah wahai Rabb! [Hadits ini Shahih, diriwayatkan oleh Syaikh Shaleh Fauzan secara makna. Ini adalah potongan dari hadits yang panjang-prima]

Lupa segala macam kenikmatan dunia pada awal dirasakan padanya azab. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang diberikan pada mereka kesempatan hidup kemudian mereka telantarkan dalam kelalaian dan kesenangan. Dan diberikan pada mereka harta kemudian mereka hambur-hamburkan di jalan syahwat-syahwat yang haram. Ketika mereka merasakan balasan mereka yang pertama, mereka lupa setiap apa yang pernah mereka miliki di dunia dari waktu dan harta dan semua apa yang pernah mereka rasakan dari kelezatan dan syahwat.

Merekalah orang-orang yang memusatkan akal-akalnya dan aktifitasnya serta perhatiannya untuk dunia mereka dan mengikuti syahwat perut dan kemaluan mereka dan meninggalkan kewajiban terhadap Rabb mereka dan melupakan akhirat mereka. Hingga datang kepada mereka kematian sehingga mereka keluar dari dunia dalam keadaan tercela, merugi dari kebaikan-kebaikan, sehingga bersatulah pada mereka sakratulmaut dan ruginya kematian. Maka mereka pun menyesal di saat penyesalan tidak lagi bermanfaat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam, dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” Maka, pada hari itu tiada seorangpun menyiksa seperti siksa-Nya, (QS. Al Fajr: 25)

Maka pikirkanlah wahai manusia sekalian! Dengan habisnya tahun habis pula umur seseorang dan pikirkanlah, dengan berpindahnya tahun perpindahan ke negeri akhirat. “Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS. Ghafir: 39-40)

Sumber : www.Sahab.net

Penulis : Syaikh DR.Shaleh Fauzan Abdullah Al-Fauzan

Diketik ulang di Bukit tinggi-Padang, 9 Desember 2009
Prima Saputra (Abu Abdillah Ibnu Firdaus Ar-Aroni)


Senin, 07 Desember 2009

Rahmat Ujian Tanda Allah

Dalam kita menghadapi ujian, pasti ada jalan keluarnya.
Sebagai langkah pertama cuba fahami dan hayatilah pesanan Nabi Muhammad SHallallahu 'alaihi wasallam  yang berbunyi, "sebaik-baik ibadah ialah sabar menunggu jalan keluar". Ini bermakna tidak ada satu ujian pun yang akan kekal.

Mana mungkin ada malam yang tidak ada siang, pagi tanpa digantikan dengan petang, mana mungkin banjir berpanjangan dan tidak akan terjadi kemarau berpanjangan. Jika ini kenyataan yang terjadi bermakna Allah tidak pernah tidak adil pada makhluknya. Bagi memperhatikan lagi cinta Allah pada makhluk-Nya dan membuktikan lagi kehebatan Allah Yang Maha Adil maka dibekalkan makhluk-Nya dengan pesanan melalui surah Hud :81 yang berbunyi, 



"Bukankah Subuh itu sudah tiba."

Subuh bermakna betapa pun panjangnya malam pekat pasti akan bertemu dengan waktu tamatnya. Oleh iu betapa pun berat dan panjangnya penderitaan yang ditanggung oleh hamba Allah, Dia telah menjelaskan pasti Allah menemukan saat penyembuhan untuk keluar daripada permasalahan itu. Subuh bermakna cahaya fajar bagi orang yang ditimpa kesedihan itu telah menyerlah. Maka pandai-pandailah merasai sapaan dan sentuhan suria pagi, tunggulah panasnya bebola mentari pagi sebagai tanda bahawa kemenangan telah datang dari Yang Maha Berkuasa.



Oleh itu, laluilah kehidupan dengan keyakinan,dan rasailah sentuhan Allah tidak pernah putus kepada kita hamba-Nya. Ini dipastikan dalam janji Allah bahawa Allah tidak pernah mengantuk, tidak pernah penat, berhenti mengurus langit dan bumi serta seluruh isinya. Anggaplah suatu permasalahan itu sebagai seperti seutas tali. Jika tali itu sudah sangat tegang, maka ia akan segera putus. Ertinya jika persoalan itu sudah kritis atau matang, maka tunggu kerana ia pasti akan berhenti dan ditemukan dengan jalan keluar.

Allah akan pastikan setiap kesedihan dan kegembiraan itu menemui penghujungnya. Ini ditegaskan lagi oleh Allah, 

"Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah nescaya Allah akan menjadikan baginya jalan kemudahan dalam urusannya (QS Ath-Thalaq:4).

Ini janji Allah yang sangat pasti, maka bangunkan keyakinan dan panjatkan doa dan kesedihan kepada-Nya, pasti kita akan berasa bahawa kesedihan tidak berpanjangan kerana Allah tidak membenarkan keadaan itu terjadi selagi kita hambanya tidak berputus asa dari rahmat Allah. Sebab itu Allah menjanjikan, 

"Maka, sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." (QS Al: Insyirah:5-6)

Dengan syarat kita yakin sepenuhnya bahawa apa yang kita lakukan kerana Allah dan mahu mendapat reda Allah, bukan kerana manusia.





Wanita & Ibu Muslimin

PENGHORMATAN terhadap wanita jelas terbentang dalam ajaran Islam, malahan sehingga di dalam al-Quran terdapat surah yang membincangkan soal-soal wanita.

Surah itu dinamakan An-Nisa’, bererti ‘Surah Perempuan atau Wanita.’ Ini menunjukkan persoalan wanita tidak diabaikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Di dalam surah Al-Ahzab pula diterangkan mengenai hakikat tersebut sebagaimana firman Allah yang bermaksud:


“Sesungguhnya lelaki dan perempuan Muslim, lelaki dan perempuan Mukmin, lelaki dan perempuan yang benar, lelaki dan perempuan yang sabar, lelaki dan perempuan yang khusyuk, lelaki dan perempuan yang bersedekah, lelaki dan perempuan yang berpuasa, lelaki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, lelaki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah Subhanahu WaTa'ala, Allah Subhanahu WaTa'ala telah menyediakan untuk mereka pengampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam telah memberi contoh dan teladan dan penghargaan terhadap kaum wanita. Lemah lembut dan kasih sayang dan tanggungjawab terhadap isteri-isteri baginda telah ‘melunakkan’ hati-hati orang zalim pada zaman itu, umpama cahaya yang memancar menembusi ceruk dan liku-liku kehidupan.

Sebenarnya, lelaki dan wanita itu telah diberi hak yang sama dan kewajipan yang sesuai dengan keadaan jasmani dan peribadi masing-masing. Lelaki yang bertubuh kuat dan berkuasa diberi tugas untuk memimpin dan melindungi wanita yang bertubuh lemah, berperasaan halus, dan sensitif. Memang sifat semulajadi wanita senang dengan perlindungan dikasihi, dihormat, dipelihara perasaannya, serta diambil berat tentang kebajikannya. Bagi wanita pula, tugas melahirkan anak, memelihara dan mendidik adalah perkara biasa yang memang sesuai dengan kemahuan dan fitrah semulajadi yang dikurniakan Allah
Subhanahu WaTa'ala untuknya.

Tentang perkara ini Allah telah berfiraman yang bermaksud:


“Kaum lelaki adalah pemimpin kaum wanita, disebabkan Allah Subhanahu WaTa'ala telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain dan kerana lelaki telah menafkahkan harta mereka.” (An-Niza’: 34)

Walaupun tugas memimpin dan memberi nafkah itu merupakan kelebihan yang diberi kepada kaum lelaki, tetapi tidak timbul sama sekali tentang siapa yang berkuasa dan siapa yang menguasai. Sebab hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin, antara yang memberi nafkah dengan yang diberi nafkah, bukanlah hanya diikat dengan ikatan harta benda dan pengajaran semata-mata, tetapi yang kuat dan teguh mengeratkan ikatan tersebut adalah ikatan ‘kasih sayang.’ Dapat juga dijelaskan bahawa dunia akan menjadi kosong tanpa wanita di dalamnya, sebagai pasangan lelaki untuk memperkembangkan keturunan. Kelahiran seorang wanita itu memang dinanti-nantikan untuk mengubat kesunyian hati seorang lelaki, iaitu Adam a.s.

Oleh hal yang demikian, Allah
Subhanahu Wa Ta'ala telah menjadikan Hawa sebagai teman daripada tulang rusuk Adam sendiri. Begitulah Allah Subhanahu Wa Ta'ala memulakan kehidupan seorang wanita untuk melengkapi kehidupan di dunia ini bagi seorang lelaki, maka jadilah seorang wanita itu daripada tulang rusuk kiri yang bengkok lagi lemah. Oleh sebab itu wanita adalah teman rapat lelaki yang perlu dipimpin kehidupannya dengan penuh kebijaksanaan dan berhati-hati oleh lelaki. Tulang yang bengkok tidak boleh diluruskan secara kekerasan kerana dikhuatiri akan patah dan tidak pula boleh terlalu lembut hingga ia terus bengkok. Ini kerana lemahnya kejadian wanita, Allah s.w.t tidak memberatkan dengan tuntutan syariah yang melebihi kemampuannya. 


Wanita adalah sebahagian daripada lelaki kerana ia dicipta dari tulang rusuk lelaki sebelah kiri. Ia dikurniakan dengan ‘sembilan’ nafsu dan ‘satu’ akal. Kelemahan wanita kerana menurut naluri daripada menggunakan akalnya. Lelaki dikurniakan ‘sembilan’ akal dan ‘satu’ nafsu. Kelemahan lelaki adalah kerana mudah terpedaya akan godaan wanita. Kenapa lelaki yang dikurniakan dengan ‘sembilan’ akal masih boleh tewas apabila digoda oleh wanita? Allah Subhanahu WaTa'ala Yang Maha Bijaksana telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik kejadian. Dan Dia telah menjadikan hamba-Nya itu berpasang-pasangan. Lelaki dan wanita saling memerlukan di antara satu sama lain. Sebahagiannya menjadi pembantu kepada sebahagian yang lain. Kemuliaan manusia hanyalah dalam agama, sejauh mana mereka berupaya mentaati perintah Allah Subhanahu WaTa'ala dan ajaran Nabi Muhammad s.a.w. Allah Subhanahu WaTa'ala telah mengurniakan kepada wanita dengan berbagai-bagai kelebihan. Syarat untuk wanita masuk syurga begitu mudah.

Anas bin Malik meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud: “Seorang wanita yang mengerjakan solat lima waktu, berpuasa wajib sebulan, memelihara kehormatannya serta taat kepada suaminya, maka pasti dia akan masuk syurga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.” (Riwayat Abu Nuaim)

Abdur Rahman bin Auf meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud: “Seorang wanita salihah lebih baik daripada seribu lelaki yang tidak salih. Dan seorang wanita yang melayan suaminya selama seminggu, maka ditutupkan baginya tujuh pintu neraka dan dibuka lapan pintu syurga yang mana dia dapat masuk dari pintu mana saja tanpa hisab.”

Siti Aisyah pula meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud: “Tidaklah seorang wanita yang didatangi haid kecuali haidnya merupakan kifarah bagi dosa-dosanya yang telah lalu. Dan pada hari pertama haidnya, dia membaca ‘Alhamdulillahi ‘alakulli hal waastaghfirullaha min kulli zanbin’, maka Allah
Subhanahu WaTa'ala menetapkan baginya bebas daripada neraka, dengan mudah melalui sirat, aman daripada seksa, bahkan Allah Subhanahu WaTa'ala mengangkat ke atasnya darjat 40 orang syuhada apabila dia selalu berzikir kepada Allah Subhanahu WaTa'ala selama haidhnya.”

WANITA YANG MULIA DI SISI ALLAH

Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud: “Sebaik-baik wanita adalah apabila engkau pandang dia maka dia menggembirakan, apabila engkau perintah dia taat, apabila engkau tiada dia menjaga hartamu dan menjaga pula kehormatan dirinya.” Terdapat sebuah riwayat, bahawa pada zaman Nabi Muhammad,  ada seorang lelaki yang bakal berangkat untuk berperang di jalan Allah . Dia berpesan kepada isterinya, “Wahai isteriku, janganlah sekali-kali engkau meninggalkan rumah ini sehingga aku kembali.” Secara kebetulan ayahnya menderita sakit, maka wanita tersebut mengutus seorang lelaki menemui Rasulullah  Baginda bersabda kepada utusan itu, yang bermaksud: “Supaya dia taati suaminya.” Wanita itu mengutus utusannya bukan hanya sekali sehingga akhirnya dia benar-benar mentaati suaminya dan tidak berani keluar dari rumah. Maka ayahnya meninggal dunia, tetapi dia tetap tidak pergi melihat atau menziarahi jenazah ayahnya. Dia tetap sabar sehingga suaminya pulang. Maka Allah  menurunkan wahyu kepada Nabi  yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah telah mengampuni wanita tersebut disebabkan ketaatannya kepada suaminya.”

Dalam riwayat yang lain mengatakan bahawa Allah
Subhanahu WaTa'ala turut mengampuni dosa ayahnya disebabkan ketaatan anaknya itu. Inilah sebenarnya perkara yang menyebabkan wanita diredai oleh Allah , bukannya dalam persamaan hak yang seperti dituntut golongan yang jahil agama. Sedangkan dalam peristiwa Israk Mikraj, Nabi s.a.w telah melihat di dalam syurga bahawa Allah Subhanahu WaTa'ala memasukkan wanita ke dalam syurga 500 tahun lebih awal daripada suami mereka dan apabila melihat ke dalam neraka, Nabi dapati dua pertiga daripada penghuninya adalah wanita.

KELEBIHAN WANITA

Abdullah bin Masud meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud: “Apabila seorang wanita mencuci pakaian suaminya, maka Allah
Subhanahu WaTa'ala mencatat baginya seribu kebaikan, diampunkan 2000 kesalahan, bahkan segala sesuatu yang disinari matahari akan memohon ampun baginya dan Allah Subhanahu WaTa'ala mengangkat seribu darjat untuknya.”

Maulana Syed Ahmad Khan dalam bayannya menceritakan kelebihan yang dimiliki oleh wanita. Katanya:

1. Seorang wanita yang salihah lebih baik daripada seorang wali Allah.
2. Wanita yang menguli tepung dengan membaca Bismillah akan diberkati Allah akan rezekinya.
3. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti membersihkan Baitullah.
4. Wanita yang salihah lebih baik daripada 70 orang lelaki yang salih.
5. Allah akan memberkati rezeki apabila wanita memasak dengan berzikir.
6. Seorang wanita yang menutup auratnya ditingkatkan oleh Allah  nur wajahnya 13 kali daripada wajah asalnya.
7. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah  yang Maha Indah di akhirat nanti, tetapi bagi Allah  sendiri akan datang untuk berjumpa dengan wanita yang menjaga auratnya purdah dengan istiqamah.

PERKARA YANG AMAT DILARANG ALLAH PADA SEORANG WANITA

1. Kepada wanita yang tidak menutup aurat Allah
Subhanahu WaTa'ala berfirman yang bermaksud: “Hiduplah dengan apa yang kau suka.”
2. Allah  melaknati wanita yang sengaja mendedahkan auratnya kepada lelaki yang bukan muhrim.
3. Perempuan yang memakai kain yang nipis dan jarang untuk menarik perhatian lelaki bukan muhrim atau memakai segala yang mendatangkan keghairahan kepada orang lain, maka dia tidak akan mencium bau syurga.

Wanita yang jahat lebih buruk daripada seribu orang lelaki yang jahat. Pengorbanan seorang wanita amat dihargai oleh Allah dan rasul-Nya. Cuma kita kurang mengetahui kelebihan yang dikurniakan kepada kita semua. Sehinggakan hari ini manusia Islam mencari sesuatu selain daripada agama kerana merasakan pengorbanan mereka tidak dihargai. Dan mereka turut melaungkan persamaan hak seperti di Barat.

Ini semua bukanlah salah mereka, tetapi kitalah yang bersalah kerana kita lupa bahawa kita ini umat yang dianugerahkan dengan tugas sebagai khalifah di muka bumi ini - memberi harapan dan bimbingan kepada manusia.


The image “http://www.stanford.edu/~grg/images/orange_flower.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.


KEMULIAAN ISTERI DI DALAM ISLAM


1. Apabila suami pulang ke rumah dalam keadaan letih dan isteri melayan dengan baik, maka dia memperoleh pahala jihad.
2. Wanita yang menyebabkan suami keluar ke jalan Allah dan menjaga adab rumah tangga akan masuk syurga 500 tahun lebih dulu daripada suaminya. Dia akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari. Dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga dan menunggang dengan menunggang kuda yang diperbuat daripada permata yaqut.

3. Wanita yang menjaga solatnya, puasa, dan taat kepada suami, Allah  izinkan dia memasuki syurga dari mana-mana pintu yang ia sukai.
4. Kalau isteri melayan suami tanpa khianat, dia mendapat pahala 12 tahun solat.
5. Wanita yang meninggal dengan keredaan suaminya akan masuk syurga.
6. Jika suami mengajar isterinya satu masalah agama, akan dapat pahala 80 tahun ibadat.
7. Isteri yang memandang suami dengan kasih sayang dan suami yang memandang isteri, juga dengan kasih sayang, maka Allah  memandang dengan penuh rahmat.
8. Jika suami mendatangi isterinya kemarahan, tetapi isteri melayan dengan baik, maka mendapat separuh pahala jihad.

KEMULIAAN IBU DI DALAM ISLAM

 
1. Dua rakaat solat wanita yang hamil lebih baik daripada 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.
2. Wanita yang hamil mendapat pahala puasa pada siang hari dan pahala ibadat pada malam hari.
3. Wanita yang bersalin mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa serta setiap kesakitan pada satu uratnya, Allah  menganugerahkannya satu pahala haji.
4. Sekiranya wanita meninggal dunia dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia dikira sebagai mati syahid.
5. Wanita yang memberi minum susu badannya kepada anaknya, akan dapat satu pahala daripada setiap titik susu yang diberikannya.
6. Wanita yang memberi minum susu badannya kepada anaknya yang menangis, maka Allah beri pahala satu tahun pahala solat dan puasa.
7. Kalau wanita menyusui anaknya hingga cukup tempoh dua setengah tahun, maka malaikat di langit mengkhabarkan berita bahawa syurga wajib baginya.
8. Seorang ibu yang menghabiskan masa malamnya dengan tidur yang tidak selesa kerana menjaga anaknya yang sakit, akan memperoleh pahala seperti membebaskan 20 orang hamba.
9. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari kerana menjaga anaknya yang sakit, akan diampunkan oleh Allah  akan seluruh dosanya dan apabila dia menghiburkan hati anaknya, Allah  mengurniakan 12 tahun pahala beribadat.

WANITA YANG DIMURKAI ALLAH

Kemurkaan Allah
Subhanahu WaTa'ala pada hari kiamat amat dahsyat sehinggakan nabi-nabi pun sangat takut. Bahkan Nabi Ibrahim pun lupa bahawa dia mempunyai anak yang bernama Nabi Ismail kerana ketakutan yang amat sangat. Abu Zar r.a meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud: “Seorang wanita yang berkata kepada suaminya, ‘semoga engkau mendapat kutukan Allah , maka dia dikutuk oleh Allah  dari atas langit ketujuh dan mengutuk pula segala sesuatu yang dicipta oleh Allah kecuali dua jenis makhluk, iaitu manusia dan jin.’

Abdur Rahman bin Auf meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad bersabda yang bermkasud: “Seorang isteri yang menyebabkan kesusahan kepada suaminya dalam hal belanja atau membebani sesuatu yang suaminya tidak mampu lakukan, maka Allah  tidak akan menerima amalannya yang wajib dan sunatnya.”

Abdullah bin Umar r.a meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud: “Seandainya apa yang ada di bumi ini merupakan emas dan perak serta dibawa oleh seorang wanita kerumah suaminya. Kemudian pada suatu hari dia terlontar kata-kata angkuh, ‘engkau ini siapa? Semua harta ini milikku dan engkau tidak punya harta apapun.” Maka hapuslah semua amal kebaikannya walaupun banyak.

Nabi Muhammad s.a.w adalah seorang yang sangat kasih kepada umatnya. Baginda menghadapi segala rupa bentuk penderitaan, kesakitan, keletihan, dan tekanan. Begitu juga air mata dan darah baginda telah mengalir semata-mata kerana kasih sayang terhadap umatnya. Maka lebih-lebih lagi kita sendirilah yang wajar berusaha untuk menyelamatkan diri kita, keluarga kita dan seluruh umat baginda.



KEISTIMEWAAN WANITA

1. Doa wanita lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, baginda menjawab: “Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”
 

2. Wanita yang salihah (baik) itu lebih baik daripada seribu orang lelaki yang salih.

3. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah dan orang yang takut akan Allah  akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
 

4. Barangsiapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka, barangsiapa yang menggembirakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail a.s.

5. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah) di dalam syurga.
 

6. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.

7. Daripada Aisyah r.a. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.”
 

8. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

9. Apabila ibu bapa memanggil kamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu. 


10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya, akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

11. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan walinya serta menjaga sembahyang dan puasanya.
 

12. Aisyah r.a berkata “Aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?” Jawab baginda, “Suaminya.” “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah , “Ibunya.”

13. Wanita, apabila melakukan solat lima waktu, puasa sebulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dia kehendaki.
 

14. Setiap wanita yang membantu suaminya dalam urusan agama, maka Allah  memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

15. Apabila seseorang wanita mengandungkan janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah  mencatatkan baginya setiap hari dengan seribu kebaikan dan menghapuskan daripadanya seribu kejahatan.
 

16. Apabila seseorang wanita mulai sakit hendak bersalin, maka Allah  mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah .

17. Apabila seseorang wanita melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
 

18. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

19. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah  memberinya pahala seperti memerdekakanya 70 orang hamba dengan ikhlas demi membela agama Allah. 


Demikianlah besarnya anugerah Allah kepada para wanita yang taat akan perintah Allah, ajaran rasul-Nya, juga kepada suaminya.